Lanjutan kisah berjudul Pelangi Malam

SPRINTER TELAT

Kotak hitarn yang mengeluarkan suara yang terus mencengkeram pendengaranku pertanda jalan menuju surga telah bibuka, bus pengantar pun sudah mulai datang, dan juga para penumpang mulai memasuki area pemberangkatan, aku tengok ke kiri, ke kanan, dan ke belakang ternyata barisan-barisan mulai terpenuhi, bagian VIP telah terpenuhi termasuk aku yang memenuhinya.

Bus mulai bergemuruh, pintunya pun telah tertutup rapat, sekali lagi aku menengok ke segala arah ternyata aku tidak melihat penumpang yang memenuhi bagian belakang, pak sopir pun mulai menginjak pedal gasnya dan mulai membaca mantra yang telah aku kanal sebelumnya, terkadang kami para penumpang bersorak lemas mengucapkan satu kata dan itu adalah pertanda bahwa kami talah siap menuju surga.

Namun ditengah perjalanan, terdengar suara hentakan kaki yang mulai mendekati kendaraan ini, seperti sprinter berlari larak 10.000 centi. Hatiku mulai tak tenang, suara itu membuat pikiranku mual dan merespon lambung kecilku untuk memuntahkan sesuatu.

Tiupan angin yang menyerbuku mulai menggetarkan tubuhku, aku yang mulai tak tahan dengan itu semua mulai mencoba menahannya, aku bayangkan kenikmatan-kenikmatan surga yang akan datang, walaupun aku tak tahu kapan aku tiba di surga, yang jelas setelah Yang di atas memerintahkan anak buahnya untuk meniup terompet yang bukan hanya mengurangi kepekaan pendengaranku tapi hampir semua isi bulatan yang kupijaki ini memuntahkan seluruh HCl nya.

Sopir mulai menengok kebelakang dua kali, ini pertanda bahwa perjalanan break sebentar. Dilanjutkan lagi setelah matahari mulai memanggang semuanya, kira-kira sampai beberapa derajat. Aku mulai menengok kebelakang, ternyata banyak para penumpang yang tunggang langgang mengejar ketertinggalannya. Aku tak habis pikir sesuatu yang terus menghantuiku kini datang kembali, sesuatu yang telah membuat konsenku pecah sebelum pemberangkatan, yaitu rutinitas yang setiap pagi dilakukan para homo sapiens. Mungkin mereka menganggap bahwa itu semua merupakan salah satu cara yang paling efektif untuk mengiringi mantra-mantra ilahi.

Aku sudah tak betah tinggal di sini, rasa-rasanya seperti ruangan hampa yang oksigennya mulai menipis, dan juga CO2 yang mulai mencekik leherku. Aku haru keluar dari sarang homo sapiens ancoor ini, sarang yang mestinya dipenuhi para homo sapiens yang terus melantunkan suara yang membuat hati menjadi tentram ternyata disini hanyalah pulau-pulau kecil yang tak terjamah pun oleh para pelaut.

Aku mulai beranjak dari tempat ini seraya bersyukur atas semua yang menimpaku sejak aku bangun dari dimensi mimpu yang tak terlupakan, namun saat aku mulai beranjak menuju tempat dimana aku berlindung dari mara bahaya kasat mata, ternyata para sprinter itu telah mendahuluiku.

Semuanya serba nggak enak, tapi aku harus menjalaninya dengan penuh kesabaran dan hanya dengan mengambil hikmahlah solusi yang paling tepat untuk mengatasi itu semua.

BERSAMBUNG