Lanjutan kisah berjudul Buaya Pondok

SEJARAH HIDUP

Sakit yang terus menimpaku tak lagi bisa terobati dan terus merasuk melemahkan jaringan syarafku. Aku mencoba mendekat dan meminta pertolongan pada Yang di atas, aku pun kini mulai sehat setelah malikat berbaju putih datang memeluk tubuhku seraya menyeka bajuku yang basah karena buaya tadi.

Aku kembali menuju perpustakaan, tapi aku tak melihat seorang pun yang berada didalam sana, aku baru teringat, ternyata jam kini menunjukkan pukul 12.55 WIRA. Aku menuju ke tempat peraduan dengan wajah penuh dengan butiran air suci, aku melangkah menuju peraduan dengan hati yang semula hitam kelam menjadi sejernih air yang menghiasi wajahku.

Aku melihat para shohib-shohibku yang sedang asyik dengan lantunan do’a yang keluar dari balok hitam diselimuti membrane kecoklatan. Kini sang surya talah mamanggang semuanya, itu pertanda bus mulai melanjutkan perjalannya kembali setelah break sebentar.

Aku yang baru sembuh dari sakit yang merusak seluruh aktivitas studyku tak ketinggaln bus yang mulai meninggalkan dunia yang penuh dengan fatamorgana. Kali ini tak ada lagi yang bisa menggangu perjalananku, semua shohib-shohibku talah aku data.

***

Pak sopir pun memberhentikan kendaraannya, seluruh penumpang termasuk aku keluar dengan hati yang telah jernih dan iman yang tak menipis lagi. Aku kembali menuju tempat dimana aku berlindung dari mara bahaya kasat mata dengan hati yang penuh unkapan-ungkapan yang menimbulkan pahala yang tak bisa aku lihat.

Kejadian tadi pagi telah terbayar lunas dengan hatiku yang terus bergetar mengeluarkan suara yang bisa terdengar oleh aku dan Sang penciptaku, bayangan hitam, para dedemit pun kini hilang diserang virus-virus religi.

Aku melanjuttkan aktivitas siangku dengan mengisi lambungku sengan beberapa suap makanan yang tak sedap jika dilihat tapi ma’ nyos jika di syukuri. Lambungku kini tak hanya didisi oleh HCl yang terus mangalir membasahi dindingnya tapi juga terisi oleh bubur yang tak bisa aku lihat.

***

Memasuki area studyku yang mulai beranjak pergi, hilanglah rasa penasaranku terhadap persoalan yang menimpaku tadi pagi, aku menelidikinya dan menguak semua tabir kejahatan itu dengan tanpa menlupakan hikmah dari kejadian itu.

Studyku kini pergi dengan sejuta kenangan dan perpisahan yang sangat menyedihkan, baru kali ini aku merasakan kehilangan beberapa butir ilmu yang tak biasanya aku rasakan sebelumnya.

Langit yang mulai gelap bersamaan dengan perpisahanku dengan butir ilmu tadi menggiringku untuk melanjutkan perjalannanku menuju surga yang telah di obra’I oleh sahutan-sahutan ilahi yang terus menggema mengalahkan gerigi-gerigi kendaraan yang mulai hilang dan dating kembali.

Ini merupakan hari yang penuh dengan kenangan pahit manisnya kehidupan yang tak kan pernah aku lupakan dalam sejarah hidupku.

TAMAT