SENYUMAN REMBULAN
Dinginnya malam, angin yang terus bergejolak menerbangkan angan-anganku. Aku lihat rembulan yang sedang mengintipku dari balik dedaunan yang terus menari-nari.
Senyuman rembulan yang mengingatkan aku kan seorang sahabat, sayang hanya sebentar saja. Aku tuliskan larik demi larik puisi untuknya,
Wahai rembulan yang manis,
sekarang aku melihat kau, kau melihat aku,
ayah bundaku yang nan jauh disana.
Maukah kau sampaikan salam aku tuk mereka??,
dengan tersisanya lembaran kartuku,
maka itulah nyawaku disini,
di sebuah ma’had jauh dari perkampunganku.
Rembulan………
andaikan kau bisa bicara…..
tapi setidaknya akulah hamba yang bodoh…….
kau bicara, kau mendengar tapi aku tak sadar itu semua,
aku baru tahu….
Rembulah jangan perdulikan aku ini….
Wahai rembulanku, tersenyumlah selalu……
I….am