SENYUMAN REMBULAN

Dinginnya malam, angin yang terus bergejolak menerbangkan angan-anganku. Aku lihat rembulan yang sedang mengintipku dari balik dedaunan yang terus menari-nari.

Senyuman rembulan yang mengingatkan aku kan seorang sahabat, sayang hanya sebentar saja. Aku tuliskan larik demi larik puisi untuknya,

Wahai rembulan yang manis,

sekarang aku melihat kau, kau melihat aku,

ayah bundaku yang nan jauh disana.

Maukah kau sampaikan salam aku tuk mereka??,

dengan tersisanya lembaran kartuku,

maka itulah nyawaku disini,

di sebuah ma’had jauh dari perkampunganku.

Rembulan………

andaikan kau bisa bicara…..

tapi setidaknya akulah hamba yang bodoh…….

kau bicara, kau mendengar tapi aku tak sadar itu semua,

aku baru tahu….

Rembulah jangan perdulikan aku ini….

Wahai rembulanku, tersenyumlah selalu……

I….am

Berubah…..

Bulan yang aku nanti-nanti telah datang…

dengan melajunya waku yang kian meninggalkan aku…..

hanya sedikit bahkan tak ada sebuah malam sepesial untukMu.

tak tahu kenapa……

tak tahu ada apa…..

salah aku sendiri,

tak peduli,

tak percaya……

kemarin…..

dinanti-nanti….

sekarang….

dicampakkan……

besok….

ku sesali…

iitulah sifat aku…….

semuanya berubah………

berubah…..

hanya karna seorang aku……

RUTINITAS MORNING

Dinginnya angin malam yang kini kian menusuk tulang kecilku, terdengar suara deruan gerigi-gerigi mesin yang terus berkumandang hilang dan datang kembali, aku mulai bangun dari dimensi mimpiku yang tak kan pernah terlupakan, aku bermimpi bersahabat dengan bulan yang kesepian di atas genteng merah asramaku. (lagi…)

Lanjutan kisah berjudul Pelangi Malam

SPRINTER TELAT

Kotak hitarn yang mengeluarkan suara yang terus mencengkeram pendengaranku pertanda jalan menuju surga telah bibuka, bus pengantar pun sudah mulai datang, dan juga para penumpang mulai memasuki area pemberangkatan, aku tengok ke kiri, ke kanan, dan ke belakang ternyata barisan-barisan mulai terpenuhi, bagian VIP telah terpenuhi termasuk aku yang memenuhinya. (lagi…)

Lanjutan kisah berjudul Sprinter Telat

TERORIST

Saraf-saraf otakku mulai kontraksi dan akan mengeluarkan kepulan-kepulan asap hitam yang sangat panas sekali, tingkat keimanan pun aku pertaruhkan, timbangan amal perbuatanku mulai anjlok setelah melihat kejadian tadi pagi seusai perjalanan ke surga.

Aku harus menjalankan rutinitas pagiku yang telah ditunggu sang mentari pagi dan ngosipan burung-burung pipit yang bersemayam dipohon yang dihuni para koruptor-koruptor negara yang tak kalah riuhnya dengan gosipan para homo sapiens . Aku mulai memandang kea rah bangunan seperti perpustakaan yang telah diobrak-abrik oleh si kutu buku, aku mulai terhipnotis oleh semua itu, mataku, fikiranku, dan hatiku kini mulai terikat oleh hipnotisan tumpukan-tumpukan sumber ilmu yang terus diikuti oleh bayangan hitam di belakangnya. (lagi…)

Lanjutan kisah berjudul Terorist

BUAYA PONDOK

Saat jam masuk sekolah telah lewat dengan sejuta kenangan pahit bagi para pemilik batok-batok kepala tadi, aku mulai resah dan tanpa arah, aku berdiam diri membuat nadiku berhenti ( do y), aku memandang keluar aku lihat lagi penampakan belasan ekor buaya yang sedang olah raga di tengah siraman sang surya dengan suhu beberapa derajat.

Aku kasihan melihat buaya-buaya itu, andaikan aku bisa keluar dan menolongnya aku akan menolongnya, dan aku juga melihat seorang pawang dan kelihatannya adalah seorang pawang khusus buaya pondok dengan berpakaian rapi dengan garis sejajar di dadanya, tampak berdasi dan berkopyah hitam dengan moncong menjulang sepeti anak burung pipit yang sedang menunggu makanan dari induknya. (lagi…)

Lanjutan kisah berjudul Buaya Pondok

SEJARAH HIDUP

Sakit yang terus menimpaku tak lagi bisa terobati dan terus merasuk melemahkan jaringan syarafku. Aku mencoba mendekat dan meminta pertolongan pada Yang di atas, aku pun kini mulai sehat setelah malikat berbaju putih datang memeluk tubuhku seraya menyeka bajuku yang basah karena buaya tadi.

Aku kembali menuju perpustakaan, tapi aku tak melihat seorang pun yang berada didalam sana, aku baru teringat, ternyata jam kini menunjukkan pukul 12.55 WIRA. Aku menuju ke tempat peraduan dengan wajah penuh dengan butiran air suci, aku melangkah menuju peraduan dengan hati yang semula hitam kelam menjadi sejernih air yang menghiasi wajahku. (lagi…)

“ L “

Dikala jantung berdetak kencang mengisi rongga dada yang terus mengempis dan menggembang, pikiran dan hati mulai tertuju oleh lembaran kertas putih bertuliskan puluhan kata-kata yang bermakna sangat indah diikuti beberapa digit angka yang bisa membuat jiwa raga kita melayang dan terjun bebas dari angkasa.

Aku mencari dua buah kata yang tertera dalam lembaran itu, aku urut dari yang paling atas sampai yang terakhir dengan otot yang menahan kedipan tuannya, dan akhirnya aku temukan sebuah nama dengan nomor urut 16, sebuah nama yang sangat tidak asing lagi bagiku dan terus melekat erat didalam keningku.

Aku ejah rangkaian huruf-demi huruf yang tertera dalam baris ke- 17 itu, aku renungkan sejenak, aku amati sekali lagi, rangkaian huruf yang memancarkan senyuman disetiap orang yang melihatnya dengan mata hati dan tak lupa aku balas senyuman manis itu. (lagi…)

Lanjutan dari kisah berjudul “ L “

PERPISAHAN

Setelah luput dari kebuntuan hati yang bisa teratasi begitu saja, aku kini mulai meneteskan air mata yang sudah tak bisa aku tahan lagi, air mata yang terus membasahi membran kulitku yang telah aku pakai sejak 25488 jam yang lalu. (lagi…)

3

3 itulah angka yang sangat sacral dan merupakan sebuah fenomena yang sangat melelahkan jiwa dan ragaku, aku nggak tahu bahwa angka yang ku sandang sekarang merupakan awal dari semua kesialan, aku bukan mengangap angka itu sebagai angka keramat atau angka sial, mungkin hanya aku saja yang saat ini lagi kesal dan semua tak ada yang mood sama sekali, jadi aku mengaitkannya dengan angka yang aku sandang dari kurang lebih 25488 jam yang lalu. (lagi…)

Halaman Berikutnya »